Fur Elise (part.2-end) [2SHOT]

Title : Fur Elise (part.2-end) [2SHOT]

Author : Cute Pixie & Keyholic

Casts : Jessica Jung, Kim Jaejoong, Kim Heechul

Length : 2shot

Genre : Romance, Angst, maybe Mistery

Rating : PG-13

Disclaimer : Terinspirasi dari film Jepang, jujur aku enggak tau judulnya apaan.. inti ceritanya jg aku denger dari temen aku yang doyan nonton filem Jepun.. tapi ceritanya nggak 100% sama,kok.. cerita’a beda, cuma idenya yg terinspirasi dari sono.. hehehe

Previous Part : Fur Elise (part.1)

***

Jessica POV

Aku tak ingin kembali secepat ini..

Aku ingin terus bersamanya, namja yang sudah mulai kusayagi..

Aku tak ingin berpisah dengannya.. aku.. aku takut..

Aku takut kami tak bisa bertemu lagi.. kalaupun bertemu, aku ragu akankah ia masih mengingatku?

Aku ragu dengan semua kenyataan-kenyataan itu.

Tanpa kusadari cairan bening itu telah menggenang di rongga mataku. Sekali saja aku mengerjap mungkin cairan itu akan tumpah menyusuri kulit wajahku.

“Jessica-ya, wae gurae? Gwenchanayo?”

“Ah.. aniyo.. amugeoddeo anniya.. naega gwenchana,” jawabku perlahan. aku mencoba tersenyum manis padanya.

“Uh, geuraemyon… ayo kita mulai lagi,” ia terseyum sepertiku. Ia mengacak rambut pirangku dan menarikku dengan tangan putihnya itu.

***

Sudah lebih dari seminggu kami berlatih seperti ini. dan selamat. Aku bisa memainkannya dengan sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Aku juga sudah bisa menghayati alunan piano itu. Tapi walaupun aku telah mahir, aku berusaha tak mengungkit mengenai kapan kepulanganku ke masa depan, bahkan selalu menghindarinya saat pembicaraan kami mulai menjurus ke hal itu.

Dan sepertinya namja itu tak pernah berniat mengungkit masalah itu. Untunglah.

Jujur saja, aku tak ingin kembali, aku ingin disini selamanya, disisi namja itu. Walaupun hingga saat ini aku belum tahu perasaannya sama sepertiku atau tidak.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya hal itulah yang mempertemukanku dengan saat dimana aku harus kembali ke dunia asalku dua hari lagi.

Piano, yang menjadi portal penghubung antara masa ini dan masa depan, akan dijual pihak sekolah dan digantikan dengan piano baru dengan alasan piano itu sudah tua, suaranya pun sudah mulai melengking tak merdu lagi.

Sepertinya memang aku harus kembali pulang. Jika tidak, aku bisa terperangkap selamanya. Aku takkan bisa melihat umma dan Krystal, yodongsaeng kecilku. Yang lebih fatalnya lagi, itu akan mengacaukan siklus waktu, masa lalu, masa sekarang, dan masa depan…

***

Jaejoong POV

Jaejoong pabbo!!

Aku ini benar-benar namja yang pabbo.. aku pengecut.

Aku tak bisa membuatnya tinggal disini, mau tak mau ia pasti akan kembali. Egois. Aku ini tak boleh bersikap egois. Jika ia disini selamanya, terlalu banyak kerugian yang akan ditimbulkannya.

Malam ini. Saatnya semuanya berakhir.

Kami memasuki halaman sekolah dengan langkah perlahan. cukup gelap, hanya saja terlihat sedikit cahaya yang memancar dari lampu taman.

“Jessica-ya, sebelum ke ruang piano itu aku ingin menunjukkanmu sesuatu,” aku menarik tangannya menuju suatu tempat.

“Sesuatu apa?” tanyanya penasaran. Ia pasrah saja ketika lengannya kutarik.

“Ya.. pokoknya sesuatu.. anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan dariku,”

Aku memang menyiapkan sesuatu untuknya, lebih tepatnya ini salah satu rencanaku untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku telah mengukir namaku dan namanya diatas meja bangku kelas kami. Aku mendekor ruang kelasku seromantis mungkin. Aku ingin ia tahu perasaanku yang sebenarnya.

“Palli.. buka pintunya, aku sudah menyiapkan sesuatu di dalamnya,”

Perlahan saat ita mulai memegang gagang pintu itu, tiba-tiba..

BUMMM!!!

***

Author POV

Seorang lelaki berseragam layaknya satpam mengelilingi koridor lantai dua sekolah. Ia sedang memastikan seluruh ruangan baik-baik saja dan aman dari para pencuri.

Langkahnya terhenti didepan pintu laboratorium kimia. Ia mencium bau gas.. bau gas yang berasal dari dalam.

“Bau gas.. ini semua pasti gara-gara kecerobohan siswa yang masuk laboratorium siang tadi, dasar..” omel lelaki itu.

Ia memasuki ruangan itu sembari menyulutkan korek api untuk membakar rokoknya yang masih baru. Saat ia baru ingin menyalakannya..

BUMM!!!

Ledakan dahsyat itu menggema seantero gedung sekolah.

***

Jessica POV

“Jeogemwayeyo?”

“itu.. suara ledakan, sepertinya berasal dari lab kimia,” kataku.

“Mwo? Lab kimia? Bukannya itu berseblahan dengan ruang piano?” Jaejoong mulai panik.”Palliya.. kita harus segera ke ruang piano itu, sebelum terlambat..” ia menarik tanganku dan berlari menuju tempat itu.

“Hajiman.. aku belum sempat melihat kejutanmu,” bantahku.

“Ah, sudahlah lupakan saja.. kau harus segera memainkan piano itu, hanya itu yang bisa membawamu kembali pulang!”

“Jeonggi…!! Kenapa kau seolah memaksaku untuk kembali pulang? Kau tak senang dengan kehadiranku? Apa kau tak suka jika aku tetap disini..?!” teriakku.

“Anio.. bukan begitu, tapi..”

Ia belum sempat melanjutkannya, tiba-tiba aku sudah menghambur ke pelukannya,”Aku.. aku tak ingin pulang.. aku masih ingin disini,” air mataku mulai mengucur deras.”Aku takut.. tak bisa bertemu lagi denganmu dimasa depan.. aku takut kau akan melupakanku dan menjadi memori yang tak berharga..”

“Aku janji tak akan pernah melupakanmu.. aku janji suatu saat nanti di masa depan aku akan kembali menemuimu di ruangan piano itu. Jadi tunggulah aku disana,”

***

Langkah kami terhenti didepan ruangan piano itu. Ruangan itu berantakan. Balok-balok kayu berjatuhan disertai dengan kobaran api yang mulai membesar. Jaejoong membantuku mencapai posisi piano itu, yang untungnya belum hangus dilalap api.

Aku mulai duduk di kursi piano itu sementara Jaejoong berjaga-jaga jikalau ada balok yang jatuh ke arahku. Aku mulai menggerakkan jemariku menekan tuts-tuts piano membentuk irama nada Fur Elise. Entah mengapa kenapa tiba-tiba air mataku kembali berjatuhan lagi. Cairan bening itu terus saja keluar dari rongga mataku selama aku memainkannya.

Kenapa aku menangis?

Mungkin karena aku terlalu menghayati lagu itu, ataukah karena perasaan sedihku yang sebentar lagi akan berpisah dengan Jaejoong?

Kini saatnya.. aku harus menekan tuts terakhir dari nada itu..

Aku mencoba membuka mataku yang sedari tadi terpejam, aku ingin menatap Jaejoong, satu-satunya namja yang kusayangi. Aku berbalik padanya, ia terseyum padaku. Sedetik kemudian sebuah balok besar menerpa tubuhnya, hingga ia terjatuh.

“Jaejoong..”

Aku sempat memanggil namanya ditengah isak tangisku.

Aku tak sanggup melihatnya.Kupejamkan mataku dan tak sengaja jariku menyentuh tuts terakhir itu.

Kurasakan angin yang mulai menerpa tubuhku, tubuhku seakan merasakan dingin yang luar biasa, sama seperti waktu itu.. saat aku pertama kali mencobanya.

Selamat tinggal, Jaejoong..

***

Aku mencoba membuka kelopak mataku. Aku mulai menerawang tempat ini. kulihat bentuk dan penataan ruang piano ini sama saat dimana aku akan pergi ke masa lalu.

Aku kembali!

Aku memang sudah kembali ke masaku, kembali ke tempat yang berhasil membuatku terdampar ke masa 5 tahun silam.

Jaejoong…

Aku teringat pada namja itu. Tubuhnya terkena robohan balok, sebelum aku kembali ke masa sekarang. Apakah ia masih hidup atau..

“Argghh!!” aku berteriak histeris, sambil terduduk dilantai.

Saat aku sedang bangkit, kulihat kertas not itu. Aku berusaha memainkannya sekali lagi. Tpi tetap saja tak bisa.

Aku berteriak kencang.

Aku harus tetap menunggunya.. tak perduli sampai kapan.. menunggunya, sampai kami bisa dipertemukan lagi

Aku melangkah gontai menuju ruang kelasku. Meski persaanku masih buruk toh aku harus tetap belajar. Setibanya disana segera kududukkan diriku dibangku itu, sepertinya tak ada yang memperdulikanku.

Tiba-tiba mataku membulat saat pandanganku tertuju pada goresan meja yang dihadapanku. Terukir sesuatu disitu. “Jaejoong Saranghae Jessica”

Apa ini kejutan yang dimaksud Jaejoong? Kalau memang betul.. berarti..

Seulas senyum tersungging di bibirku.

Aku akan menunggumu.. aku ingin mendengarmu mengatakannya secara langsung, Jaejoong..

***

Author POV

Setelah Jessica lulus SMU, ia masih terus murung.ia bukan lagi gadis yang murah senyum dan ceria. Kini senyumannya itu tak pernah diperlihatkannya. Selama dua tahun lebih gadis itu selalu menunggu di depan ruang piano itu. Ia menunggu janji Jaejoong.

Walaupun ia sudah lulus dari sekolah itu, ia masih tetap kesana, mendatangi ruangan itu, memainkan lagu Fur Elise agar dapat bertemu kembali dengan Kim Jaejoong.

Kini 6 tahun telah berlalu, tapi sejak 4 tahun yang lalu tak ada lagi gadis yang duduk dihadapan piano dan memainkan lagu Fur Elise, yang menunggu janji dari seseorang yang sangat ia sayangi.

Gadis bernama Jung Jessica itu tak pernah lagi menapakkan dirinya. Sejak 4 tahun yang lalu ia mengalami depresi, ia tertawa sendiri, kemudian menangis lagi, jemarinya selalu bergerak seperti memainkan sebuah piano. Terkadang lagu Fur Elise mngalun lembut dari pita suaranya.

Makin lama penyakitnya bertambah parah, akhirnya ia diungsikan ke rumah ahjummnya yang tinggal di Chungnam, tapi karena beberapa kali Jessica mengamuk, satu-satunya jalan ialah memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa.

Ummanya bukannya ia ingin menelantarkan Jessica, tapi karena selain malu terhadap anak gadisnya yang sering digunjingkan orang-orang, ummanya juga tak mampu mengurusi adik Jessica yang baru berumur tiga tahun, sedangkan ayah Jessica juga sudah tiada. Tak ada yang bisa merawatnya.

Saat ini gadis itu sedang menikmati dunianya sendiri, dunia yang selalu berpihak padanya.

***

Jaejoong POV

Akhirnya aku bisa menapaki kakiku di area ini. setelah 6 tahun aku meninggalkannya, sebelum melanjutkan perjalanku ke Chungnam, aku mempir sebentar ke makam Heechul harabeoji.

Ya, harabeoji memang sudah meninggal. Tepatnya dua hari setelah kepulangan Jessica ke masa nya. Ia terkena serangan jantung dan saat diabawa ke rumah sakit nyawanya sudah tak dapat tertolong.Walaupun ia sedikit tuli dan menyebalkan, tetap saja aku menyayanginya. Ialah yang merawatku sejak usiaku 10 tahun dan tak pernah melarangku untuk bermain piano, tidak seperti appaku.

Sepeninggal harabeoji, appa datang menjemputku dan membawaku ke Chungnam untuk melanjutkan sekolah di sana, setelah itu ia menyuruhku kuliah ke Amerika mengambil jurusan kedokteran. Aku akan menjadi dokter di salah satu Rumah Sakit Jiwa milik keluarga kami.

Entah apa alasan logis Appa membangun RSJ itu. Aku sebenarnya tak ingin mengikuti keinginan ayah, aku ingin menjadi musisi. Tapi ayah melarangku menyentuh piano lagi jika aku tak mengikuti keinginannya.

***

Ini lah hari pertamaku bekerja sebagai Dokter di RSJ Chungnam milik keluargaku. Saat ini aku sedang memantau keadaan rumah sakit dan pasien dibantu oleh perwat yang bertugas memberikan keterangan padaku. Kami berdua mengelilingi rumah sakit ini sampai langkahku terhenti oleh alunan nada yang bersumber dari sebuah bunyi piano.

Rasanya aku pernah mengenal lagu itu…

Fur Elise..

Aku membuka pintu kamar itu. Kulihat seorang gadis berambut pirang panjang tak terawat sedang membenamkan dirinya dilantai sambil memainkan piano kecilnya. Ia tertunduk, wajahnya kusut. Sepertinya ia seang menghayati permainannya..

Aku menghampirinya, menyentuh dagu kecilnya dan kudongakkan kepalanya menatap mataku.

Aku tak percaya ini…

Jessica.. kau kah itu?

Aku terdiam. Matanya yang sayu itu tak seperti pancaran mata yang kulihat 15 tahun yang lalu. Wajahku memanas. Cairan bening itu mulai tumpah.

Tangisan ini.. karena apa? tangisan bahagia-kah karena aku sudah tak lama melihat sosoknya? Atau tangisan kesedihan karena merasa miris melihatnya sedang depresi seperti saat ini?

Wajahnya tak secantik dulu lagu, wajahnya kusut, ekspresinya datar.

“Namanya Jung Jessica.. ia masuk ke RSJ ini sejak 4 tahun yang lalu, kata keluarganya ia menjadi seperti ini setelah 2 tahun lalu ia selalu pergi ke ruang piano sekolahnya katanya, gadis ini sedang menunggu seseorang…” pernyataan dari suster itu membuat semua pertanyaanku terjawab.

Ia menungguku..

Pabbo namja.. lihat apa yang kau lakukan padanya, kaulah yang membuat gadis itu jadi gila karena janjimu yang bodoh itu..

Aku mendekatinya dan langsung mendekap tubuhnya.”Jessica-ya.. neomu bogoshippeoyo.. mianhaeyo.. karena aku tak bisa menepati janjiku,”

Ia hanya terdiam tak membalasku. Tubuhnya kaku.

“Mulai sekarang aku berjanji akan mengembalikanmu seperti dulu.. kembali menjadi Jessica yang kusayangi..”

Ia tak menjawab apa-apa. pandangannya kosong.

“Saranghaeyo, Jessica…”

*FIN*

Mianhe kalo endingnya rada aneh gini.. soal’a rada mumet mo bikin ending yg bagus yng keak gimana..

mudh2an suka n jangan lupa komen pastinya…

PS : DON’T BE SILENT READER!!

Advertisements

14 thoughts on “Fur Elise (part.2-end) [2SHOT]

    • hehe iya sica trakhirnya jadi gila..sebenernya gak pengen sica jadi gila sih cuma gak tau knp waktu itu tiba2 muncul ide kea gitu hahha
      gomawo yah udah komen 😀 😀

  1. Pingback: JAESICA COUPLE #1 « fafajung

    • haha iya sicanya jadi gila.. ToT pdahal sbenernya ga pengen sih ngebuat sica jd gila..
      gomawo yah saeng udah komen kekek..aku kira pengunjungnya blog ku ga bakal ada hahha
      iya deh ntar kapan2 aku bkin jaesica couple lagi 😀 😀

    • hahaa saya juga gak tau knapa endnya sica bisa jadi gila..sbenernya ga mau sica jadi gila dan brakhir bahagia aja bareng si jaejong..tapi keanya lbih mendramatisir deh kalo sicanya jadi gila hahah #plakk
      gomawo yah buat komennya 😀

  2. wow! hanya satu kata yang aku bisa ucapin..
    keren banget kak^^b sukaaaa….
    oiya, kenalin lagi.. Jielll imnida 98lines sedang berjalan-jalan di blog kakak^^
    salam kenal ya kak^^

    • kyaaa bener nihh..aduh saya jadi terhura eh maksudnya terharu..
      haloo jiell,
      nisa imnida 😀
      wakaka wah lg jalan2 yah..gomawo yah udah mau mampir..
      beneran saya seneng banget tiap ada readers baru yang mau mampir..
      maaf kalo blognya kurang bagus soalnya sebenarnya ini cuma buat konsumsi pribadi sih,makanya kea gak keurus xixixi
      skali lagi gomawoo yah udah mau komen 😀

  3. Waahhhh bagus ceritanya thor walaupun endingnya agak nyesek, tp beda drpd yg lain. Klo boleh saran nih, lanjutin trs ff nya, sebarkan JaeSica shipper dimana pun kau berada/? Wkwk good luck~^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s