Fur Elise(Part.1) [2Shoot]

Title : Fur Elise (part.1) [2SHOT]

Author : Cute Pixie & Keyholic

Casts : Jessica Jung, Kim Jaejoong, Kim Heechul

Length : 2shot

Genre : Romance, Angst, maybe Mistery

Rating : PG-13

Disclaimer : Terinspirasi dari film Jepang + denger lagu Fur Elise yg biasanya ada di kotak musik itu.., jujur aku enggak tau judul filemnya apaan.. inti ceritanya jg aku denger dari temen aku yang doyan nonton filem Jepun.. tapi ceritanya nggak 100% sama,kok.. cerita’a beda, cuma idenya yg terinspirasi dari sono.. hehehe

=====================

Jessica POV

She’s playing the news on her piano
Somewhat drunken fingers moving a little slow
Don’t call her on it, she’ll just cry a bit

Said she liked it with your hand on her shoulder
Said it made her friends seem a little colder
She likes to think that you’re all she’s got
All she’s got….

Jemari tanganku bergerak bebas, menari lincah diatas piano itu.

Fur Elise. Sebuah lagu klasik yang baru beberapa waktu yang lalu selembar kertas not nya tak sengaja kutemukan di atas piano berwarna hitam.

Baru setengah jam yang lalu aku menemukan ruangan ini. Ruangan kosong yang terletak di lantai paling atas di sekolah.Dulunya ruangan ini pernah terbakar beberapa tahun yang lalu.dindingnya sudah terkelupas dan sebuah piano yang terletak di tengah ruangan. Piano yang masih tertutup dan berdebu. Ku singkirkan debu yang menempel di sekitar piano itu dan mengambil secarik kertas yang berisi not lagu.

“She’s got church hymns on her lips,small hands play my Fur Elise ,apologizes when she slips…” kunyanyikan syair yang tertulis di kertas itu seirama dengan tiap-tiap tuts piano yang kutekan, menghasilkan lagu yang indah.

Aku bukan anak kelas musik, aku juga tak terlalu pandai bermain piano.Tapi entah kenapa, detik ini aku bisa memainkan lagu Fur Elise dengan lancar, tanpa salah sedikitpun.

Aku menutup kelopak mataku, berusaha menghayati lagu itu.Kurasakan angin yang perlahan mengangkatku tinggi, membuat kepalaku terasa agak pusing.Aku tak bisa membuka kedua mataku, hanya tubuhku yang bisa merasakan dingin yang luar biasa.

Aku bergumam sendiri saat membuka mataku beberapa detik kemudian.

Masih di ruangan yang sama. Tak ada yang berubah sedikitpun, hanya alat-alat musik disini agak sedikit lebih bersih, penataannya juga tampak rapi.

“Hebat!”

Aku berbalik saat menyadari suara dari arah pintu yang masih terbuka lebar. Seorang lelaki berseragam yang sama denganku sedang berdiri didepan pintu. Rupanya sejak tadi ia sudah melihat permainan piano ku.

Aku tak menjawab sepatah katapun. Aku masih duduk di piano itu dan berbalik kearahnya.

“Mianhe, kukira tak ada orang disini.” Ia membungkuk sopan kearahku, lalu beranjak dari tempatnya dan menghilang dari hadapanku yang masih terbengong.

Dia..

Sangat keren…

Kenapa bisa ada namja setampan itu didunia ini?

Aishh.. apa yang kau pikirkan, Jessica pabbo? Harusnya kau sudah harus kembali ke kelas sekarang juga!

Aku meninggalkan piano itu, menggandeng tas sekolahku lalu berjalan keluar.

Aku ini masih di sekolah, bukan?

Aku berlari menuju kelasku dan membuka pintunya perlahan. Mungkin jam pelajaran pertama sudah dimulai.

Siapa orang-orang ini?

Aku terkejut saat melihat orang-orang yang ada di kelasku. Wajah mereka lain, tak seperti teman kelasku.Aku mengucek mataku, berusaha melihat dengan jelas apa yang sedang ada dihadapanku. Aku masih bingung.

Kututup pintu itu dengan hati-hati, lalu mencubit pipiku sendiri.

Apa aku sedang mimpi? Aish, pabbo..

“Siapa kau? Bukankah kau gadis yang bermain piano tadi?” tanya seorang siswa menepuk bahu kananku. Raut mukanya menunjukkan ekspresi aneh saat aku terdiam sendiri didepan pintu.

Aku tak mengubrisnya, lalu bertanya padanya sesopan mungkin.”Ini.. kelas 2C,bukan?”

“Ne, ini memang kelas 2C. ada apa?” pemuda itu mengerutkan alisnya bingung.”Kau..”

“Aku anak kelas 2C..” jawabku. Aku menoleh disekitar kanan-kiriku.”Tapi kurasa ini bukan kelasku…”

“Kalau begitu kau salah kelas,” ucap pemuda itu tertawa kecil, sepertinya ia sama sekali tak peduli. Mungkin ia kira aku ini orang bodoh yang tak tahu dimana kelasnya. Ia berjalan melewati tubuhku dan masuk ke kelas itu.

Aku mendongakkan kepalaku keatas. Kulihat papan yang tergantung di pintu kelas itu. Benar saja. Ini memang kelas 2C. tapi..

Karena rasa penasaranku yang mulai muncul, aku mengikutinya masuk. Dengan santainya ia melewati kerumunan orang-orang dan duduk dibangku pojok paling belakang.

Itu bangkuku!

Aku berlari kearahnya.”Ini tempat dudukku.”

Pemuda berambut coklat itu sedang mendengarkan musik dari mp3nya yang menurutku sudah ketinggalan jaman. Dan dengan cueknya ia sama sekali tak meresponku. Kurasa ia tak mendengar ucapanku. Aku melepas headset yang terpasang di telinganya.

“Ya! Maumu apa sih?” tanya pemuda itu dengan matanya yang tajam. Ia mengarahkan kepalanya tepat dihadapanku. Kurasa ia cukup..

“Ini bangkuku,” jawabku berusaha lembut.

“Kau ini sudah gila? Bangku ini sudah kududuki sejak aku di kelas ini,tau!” ucapnya ketus. Ia kembali memasang headsetnya dan menggerak-gerakkan jarinya seakan menikmati musik rock tahun 90-an yang sedang ia dengarkan.

Aku meliriknya kesal. Dasar namja menyebalkan!

Untung saja ia punya wajah yang lumayan keren, kalau tidak pasti aku sudah berani menentangnya!

Kuedarkan pandanganku disekitar ruangan ini. Semuanya seperti asing, sekumpulan orang-orang yang bentuk fisiknya tak kukenal. Perlahan aku berjalan menuju papan tulis yang terlihat masih baru itu. Aneh, padahal papan tulis itu berdebu setengah jam yang lalu, saat aku masih diruangan musik itu.

Perhatianku mulai tertuju pada kalendar yang tergantung disamping papan tulis putih itu. Aku terkejut saat melihat barisan angka yang tertera disitu.

15 Mei.. 1995?

Bukannya tahun 2000?

Ini…

“Hei!” kurasakan seseorang telah menyentuh pundakku. Ia menunjuk kalender yang sedang kutatap dengan raut muka nanar.”Apa yang kau lakukan?”

“Sekarang.. tahun berapa?” tanyaku ragu-ragu.

“Sekarang ya tahun 1995.. kau ini bagaimana sih?” pemuda ber name-tag Kim Jaejoong itu menaikkan sebelah alisnya.

OMO..

Dimana ini?

Tempat apa ini? Luar angkasa-kah?

Pikiranku mulai menjurus ke khayalan-khayalan bodoh, yang tak masuk akal. Pantas saja orang-orang disini terlihat asing, gaya rambutnya juga aneh. Ternyata aku kembali ke masa 5 tahun yang lalu.

“Kau bercanda,kan?”

“Untuk apa aku bercanda? Hari ini bukan april mop.” namja itu tertawa.”Oh iya.. siapa namamu?”

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab saat ia berhasil membuyarkan lamunanku.”Aku.. Jessica. Jung Jessica,”

“Jessica?” ia tersenyum. Senyumannya manis.”Nama yang bagus.. kau murid baru,bukan?”

“Ah.. ne..” jawabku asal.

“Kalau begitu kau duduk disampingku.” Ia menarik tanganku menuju bangku paling pojok dan menyuruhku duduk disampingnya.aku menurutinya dengan agak ragu. Kuletakkan tasku tepat disamping tasnya.

Ia baru duduk setelah aku duduk tepat disebelahnya, setelah itu ia mendengarkan musik lagi dan yang membuatku kesal, ditambah lagi suara mp3nya yang tergolong keras itu memecah konsentrasiku yang sedang memikirkan kejadian tadi.

Kupandangi namja bernama Kim Jaejoong itu lekat-lekat. Rambutnya yang kecoklatan diterangi cahaya matahari. Kulitnya yang putih dan bersih, benar-benar sosok yang sempurna…

“Hmm?” ia berbalik saat menangkapku menatapnya diam-diam.

Aku tak menjawab apa-apa. yang pasti wajahku kini memerah dan jantungku berdebar tak karuan. Mungkin karena aku gugup duduk disamping orang sekeren dia.

Tak lama kemudian seseorang masuk melalui pintu. Seorang wanita, berusia kurang lebih 40 tahun. Dari pakaiannya dan dandanannya sudah pasti itu salah satu guru disini.

Park songsaenim?

Aku terkejut saat menyadari wanita yang memakai blazer ungu itu adalah Park songsaenim, guru mata pelajaran Fisika yang sebulan lalu sudah meninggal karena kecelakaan. Tak kusangka Park songsaenim yang umur sebenarnya sudah 45 tahun, kini menjadi 5 tahun lebih muda disini.

“Baiklah, buka buku teksnya. Halaman 699.”

Seluruh siswa dikelas itu menuruti perintah Park songsaenim, membuka halaman yang dimaksud wanita itu.

“Teori relativitas.. ada yang bersedia menjelaskan pengertiannya?” tanya Park songsaenim.

***

Mungkin aku ini benar-benar sudah gila.

Itulah yang pertama kali muncul di otakku saat Jaejoong mengejekku dengan gayanya yang sok kecentilan ‘Dasar yeoja tak waras’. Saat aku memberitahunya tentang ‘aku kembali ke masa lalu karena tak sengaja memainkan lagu Fur Elise’ dan ‘aku sebenarnya datang dari masa depan’, ia hanya tertawa kecil dan seperti menghiraukan ucapanku. Ia pikir aku hanya bergurau.

“Aku serius,” ucap berusaha meyakinkan Jaejoong saat itu.

“Kau berbakat jadi pengarang cerita fiksi,” ia tertawa geli. Ia masih memasang headset ditelinganya.

Aku yang masih duduk disampinganya memasang tampang kesal.

Apa aku memang… kembali ke masa lalu?

Karena piano itulah sehingga ku bisa terlempar ke tempat ini!

“Aku percaya kok,” Jaejoong yang lama terdiam tiba-tiba bersuara.Ia menatapku.”Aku percaya padamu. Kurasa kau orangnya jujur,”

“Tapi.. masalahnya aku tak punya tempat tinggal.” Kataku, berusaha berterus terang.”Aku tak tahu harus tinggal dimana. Otteokhae?”

Aku tak bisa kembali ke rumahku dengan kondisi seperti ini.

“Kau bisa tinggal dirumahku.”

***

“Nah ini dia rumahku,” ucap Jaejoong saat langkah kami terhenti di sebuah rumah berukuran lumayan besar. Rumah itu ber-aksitertur Jepang dari luar, sangat kontras dengan rumah-rumah lain disekitarnya.

“Ayo masuk,” Jaejoong mengantarku masuk kedalam rumahnya. Kulangkahkan kakiku memasuki rumah itu, Nampak ruang tamu yang luas. Lampu diruangan itu sedikit redup, ruangan bersih dengan aksen berbau Jepang yang masih sama.

”Tenang saja, aku hanya tinggal berdua dengan kakekku.Kau duduk saja disana,”

Aku menurutinya dan duduk di sofa berwarna krem sambil memeluk tas ranselku. Jaejoong segera pergi dari hadapanku dan berjalan memasuki ruangan yang lain. Mataku tertuju pada beberapa foto yang terpajang di dinding ruang tamunya.

Aku mengambil salah satu pigura yang tersusun di rak. Aku tersenyum sendiri saat melihat gambar yang terpasang di pigura itu. Seorang bocah berusia kira-kira 9 tahun –yang kurasa itu Jaejoong- sedang memeluk boneka beruang sambil menangis. Lucu sekali.

“Hei!”

Tiba-tiba sebuah suara berhasil membuatku terlonjak kaget, bahkan hampir menjatuhkan pigura itu.

“Siapa kau?” tanya seorang lelaki tua penuh selidik. Ia menunjuk tepat ke arahku.

Aku gugup dan langsung meletakkan pigura itu ke tempat semula.

“Dia chingu-ku, kakek.” Ujar Jaejoong tiba-tiba muncul dihadapan kami.

Kakek tua itu manggut-manggut tanda mengerti.”Ohh.. dia yeoja chingu-mu,ya?”

“Ah, aniyo, kakek.. aku ini..”

Baru saja aku ingin menjelaskan, Jaejoong langsung angkat suara.”Kakekku ini sedikit tuli, jadi kuharap kau maklum.”

Aku mengangguk.

“Ya.. aku ini memang pandai memancing.” Ujar Kakek itu bangga.

Aku terkikik mendengarnya. Kurasa benar apa kata Jaejoong. Kakeknya ini sedikit-punya-gangguan-telinga!

”Oh iya.. namaku Kim Heechul. Siapa namamu, agasshi?”

“Aku Jung Jessica..” aku menunduk sopan kearahnya.

“Apa?”

“Jessica, kakek..”

“APA? bisa kau ulangi sekali lagi? Aku tak bisa mendengarmu,” ucap kakek itu.

“JESSICA!! J-E-S-S-I-C-A,” aku berusaha melafalkan namaku dengan suara yang agak keras, dan setelah itu Kakek langsung mengangguk mengerti.

Kakek Jaejoong ternyata orangnya lucu, ia ramah dan terbuka pada orang asing sepertiku. Ia banyak bercerita apapun padaku, termasuk tentang Jaejoong. Kata kakeknya, Jaejoong itu bercita-cita menjadi seorang musisi. Bahkan ia pandai memainkan piano. Beda sekali denganku yang kurang bisa memainkan alat musik apapun.

Tak terasa hari sudah berganti malam. padahal Kakek –aku menyebutnya begitu- masih sibuk bercerita tentang dirinya, istrinya yang sudah lama tiada, hingga orangtua Jaejoong yang tinggal di tempat yang berbeda di luar kota Seoul. Ayah Jaejoong sangat sibuk, ia mengelola sebuah rumah sakit turun temurun. Orang tuanya sama sekali tak punya waktu untuk putranya, itulah sebabnya Jaejoong dititip ke kakeknya.

“Kelihatannya kau sudah capek.. kau pasti bosan mendengar ceritaku,” ujar Kakek.

Aku yang sebenarnya sudah mengantuk, bahkan mataku seakan ingin tertutup dan ingin sekali tidur disofa yang kududuki sekarang. Aku langsung membantahnya.”Ah.. aniyo.. aku belum mengantuk,kok.”

“Oh.. kau mengantuk..”

Aku menggaruk kepalaku agak kesal. Kakek ini benar-benar bukan pendengar yang baik.

“Mari kuantarkan ke kamarmu. Jaejoong sepertinya masih mandi. Dasar anak itu! Ia memang suka mandi malam-malam,”

Ia mengantarku sampai disuatu kamar yang luas. Penataannya rapi dan bersih. Kurasa kamar ini sering dibersihkan, meskipun kata Kakek jarang sekali kamar ini ditempati.

“Kau mau kuambilkan sesuatu? Minuman, mungkin?” tanya Kakek saat ia berdiri didepan pintu.

“Ah, tidak usah, Kek.. aku sudah lelah. Aku ingin tidur saja. kurasa Jaejoong juga sudah tidur,”

“Oke! Akan segera ku panggil Jaejoong mengambilkan segelas susu untukmu, tunggu ya..”

Aku baru saja ingin protes, tapi tak ada gunanya.Kakek sudah pergi melangkah dengan ceria.

Aku menyalakan lampu kamar itu.

Sedetik kemudian kuhempaskan tubuhku di ranjang, tas ransel ku masih berada disebelahku. Perlahan kututup mataku. Hua… aku mengantuk sekali! Aku ingin tidur dan bermimpi, semoga ini hanya khayalanku saja dan paginya aku bisa kembali ke hidupku yang normal.

“Matikan lampunya. Pemborosan listrik, tau.” Jaejoong tiba-tiba muncul dan mematikan lampu kamar itu.

Aku bangun dari tidurku dan segera duduk samping ranjang. Aku lupa, pintu itu belum kututup sejak tadi. Pantas saja Jaejoong berani masuk.

Ia membawa segelas susu putih di tangannya. Ia duduk disampingku dan memberiku susu itu, aku meminumnya dengan agak ragu. Setelah selesai ia mengambil kembali gelas itu.

“Tadi Kakek menyuruhku membawakanmu ini,” ucap Jaejoong.

“Mianhe.. Jaejoong-shi.. sebenarnya bukan aku yang memintanya, tapi kakekmu yang salah mendengar ucapanku,” jelasku panjang lebar.

Jaejoong tertawa. Aku makin gugup. Bau harum dari tubuh Jaejoong tercium oleku. Kurasa ia baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih basah.

“Sampai kapan kau akan disini? Bahkan kau belum mengganti seragam sekolahmu.”

“Aku tak tahu.. kurasa aku akan terus berpura-pura menjadi siswi baru, sampai aku tahu caranya kembali ke masa depan,” aku berpikir sejenak.”Mungkin.. kalau aku memainkan lagu ‘Fur Elise’ kembali dan menemukan kertas not itu, pasti akan berhasil..”

“Aku mengerti.. aku akan terus membantumu pulang ke masa depan,” Ia beranjak dari duduknya dan mengacak rambutku pelan.”Tidur yang nyenyak, Jessica-sshi.”

Omo..

Kenapa wajahku jadi panas begini? Senyumnya membuatku deg-degan setengah mati. Aku pasti telah menyukainya.

Aku kembali menghempaskan tubuhku diatas kasur, pikiranku terus terbayang kata-kata terakhir itu. Perlahan kupegang rambutku sambil mengingat kejadian berdurasi tak lebih dari tiga detik itu.

Tidur yang nyenyak?

Kurasa itu tak akan terjadi. Mataku kini sama sekali tak bisa terpejam. Ini semua gara-gara namja itu!

***

Esoknya…

“Aduh.. bagaimana ini?”

“Not-nya teracak! Aku tak bisa kembali!”

Aku memegang kepalaku yang terasa sakit dan menjatuhkan kertas itu dengan kasar. Aku berjalan mengelilingi ruangan musik itu dengan gaya orang frustasi.Sedetik kemudian airmataku sudah tak terbendung lagi, aku menangis di bahu namja itu.

“Not-nya tak sama seperti waktu itu… Aku tak bisa kembali ke masa depan! Aku tak bisa bertemu orang tuaku lagi.. bagaimana ini..” airmataku tak henti mengalir.

Jaejoong beranjak dariku. Ia mendekati piano berwarna hitam itu dan memungut selembar kertas yang telah kujatuhkan. Kertas itu bertuliskan not misterius yang sudah teracak setelah dua hari yang lalu aku sudah memainkannya serta liriknya yang berbahasa inggris.

“Notnya memang teracak, tapi kurasa aku tahu lagu ini,”

Ia memainkan piano itu dengan hati-hati, berusaha memainkan not yang kuketahui berjudul Fur Elise. Ia memainkannya dengan indah, sama sekali tak ada cacatnya. Ia benar-benar pianis yang hebat.

“Pasti tak akan berhasil jika aku yang memainkannya.” Ucap Jaejoong serius.”Kau harus bisa memainkan lagu ini, seorang diri.”

“Tapi.. aku tak bisa bermain piano.. kejadian beberapa hari lalu, saat kau melihatku memainkan lagu ini, hanya kebetulan saja..” suaraku terdengar serak. Aku sudah patah semangat.

“Aku akan membantumu memainkan lagu ini, sampai kau bisa memainkannya sendiri.” Jaejoong berusaha menghiburku.

Ia mulai mengajariku memainkannya. Pertama-tama ia kesulitan saat mengajariku yang tak tahu memainkan piano. Kurasa ia orangnya cukup sabar. Aku pun sudah menunjukkan perubahan yang besar, dalam beberapa hari ini aku bisa memainkannya dengan agak lancar.

“Said she liked it with your hand on her shoulder.. said it made her friends seem a little..” aku menyanyikan sebait lagu itu diiringi dengan suara piano yang kumainkan bersama Jaejoong.

“Permainanmu bagus,” puji Jaejoong saat kami selesai memainkannya.”Sedikit lagi kau akan lancar dan akhirnya kau bisa kembali pulang,”

Pernyataan Jaejoong yang terakhir itu seakan menohok jantungku.

Kenapa aku merasa sedih saat mendengarnya? Padahal harusnya aku senang dengan perkataannya itu, akhirnya aku bisa pulang menemui orang tuaku dan menjalani hidup normal seperti sebelumnya.

Kalau aku pulang.. itu artinya.. aku tak bisa bersama Jaejoong lagi?

Kurasa aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku memang tak ingin berpisah dari namja itu.

*TBC*

Advertisements

11 thoughts on “Fur Elise(Part.1) [2Shoot]

  1. Pingback: JAESICA COUPLE #1 « fafajung

    • waduh iyakah ffnya penuh dengan misteri kekekek..
      mian aku baru bisa balas komen mu..soalnya aku pikir ga bakal ada yang komen d blog ini jadinya aku jarang ngunjungin nih blog heheheh
      gomawo yah udah komen 😀 😀

  2. astaga ternyata ada yang komen..aduh mian yah baru liat komen mu..hehehe
    iyadeh kapan2 aku buat jaesica lagi 😀
    gomawo yah buat komennya 😀 😀

    • haha iya..soalnya kan dia maen piano tuh..trus dalam partitur not yang dia mainkan itu sebenarnya punya unsur magic gimanaa gitu..hha
      iya, jess ga bakal ktemu jaejong kalo dia ga kmbali ke masa lalu ..Tapi kasian juga sih soalnya ntar dia pasti menderita juga ..
      oh iya gomawoo yah buat komennya 😀

  3. wuiihh, sumpah keren banget kak 😀 aku kalo inget lagu fur elise jadi inget kartun jepang yang ghost at school.. kekeke~
    oiya kak, salam kenal ne^^ aku pendatang baru di blog kakak.. heheheXD

    • annyeonggg!!
      waduh mian sya telat nyambut readers baru kita ini kkk
      saya kira udah ga ada lagi yang bakal mau komen..
      ghost at school keanya sya pernah dengar,tp blom prnah ngliat sih hoho
      wahh gomawo yah buat komennya.. 😀 😀
      Ne salam kenal juga 😀 😀

  4. Wahhhh author makasih yaaa udah mau buat ff ini pdhl jarang2 ada yg suka jaesica, malah kebanyakan haters nya doang 😥 smangat ya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s